ZMedia Purwodadi

BRIN Temukan Sesar Aktif di Semarang, Lebih Panjang dari Sesar Lembang

Table of Contents
Featured Image


OganAktual.com - Jumlah sesar aktif yang ada di Pulau Jawa semakin meningkat, dengan beberapa wilayah yang sebelumnya tidak dikenal memiliki ancaman gempa kini mulai menjadi perhatian serius. Salah satu yang paling dikenal adalah Sesar Lembang, yang berada di utara Bandung dan memiliki panjang sekitar 30 kilometer. Kini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan adanya potensi sesar aktif baru di Semarang, Jawa Tengah. Meski selama ini kurang terpantau, penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk memahami risiko yang mungkin terjadi.

Penelitian tersebut dilakukan melalui ekspedisi geologi oleh Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN pada Mei lalu. Tim akan kembali melakukan penelitian lanjutan pada bulan Agustus dan September mendatang. Ekspedisi ini mencakup wilayah Semarang serta sekitarnya, termasuk Demak dan Kendal. Tujuan utamanya adalah untuk mempelajari sesar naik, yang menunjukkan potensi gempa atau aktivitas seismik di masa lalu.

Purna Sulastya Putra, peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, menjelaskan bahwa potensi kerusakan akibat gempa di sekitar sesar aktif sangat besar. "Bukan hanya di sepanjang jalur sesar itu saja, tapi juga bisa memengaruhi area lain," ujarnya dalam diskusi Menggali Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa. Ia mencontohkan Sesar Lembang yang melintasi Bandung, Cimahi, dan daerah sekitarnya. Gempa di sana dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar, terutama karena kondisi tanah di Bandung yang lembek akibat endapan danau purba.

Kota Bandung dulunya merupakan cekungan hasil letusan Gunung Sunda sekitar 210 ribu tahun yang lalu. Selama ribuan tahun, cekungan ini tertutup oleh aktivitas vulkanik dan aliran sungai yang membawa berbagai material. Hal ini membuat wilayah Bandung rentan terhadap dampak gempa, terutama jika terjadi di sekitar sesar aktif.

Menurut Purna, gempa yang terjadi di sesar aktif biasanya berupa gempa dangkal, sehingga kekuatannya cukup besar dan getarannya dirasakan dalam radius yang luas. Namun, tidak semua titik di sepanjang sesar aktif berpotensi menimbulkan gempa. Jika terjadi, intensitasnya bervariasi. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut sangat penting untuk memetakan segmen-segmen sesar yang sudah pernah mengalami geseran atau masih terkunci.

Sementara itu, Sonny Aribowo, periset bidang Paleoseismologi BRIN, menjelaskan bahwa tim ekspedisi sesar Semarang juga melakukan wawancara dengan warga setempat. Mereka menemukan jejak morfologi unik antara pantai utara Jawa dan kota Semarang. Jejak ini menunjukkan adanya batas morfologi mencolok antara area datar di utara dan area yang lebih tinggi di selatan.

Dalam ekspedisi ini, tim menyusuri tiga zona utama, yaitu Zona Timur (Demak), Zona Kota (Semarang), dan Zona Barat (Kendal). Di ketiga zona tersebut, mereka menemukan data yang berbeda-beda. Misalnya, di Zona Barat, kawasan Bendungan Juwero menjadi titik paling menjanjikan, dengan jejak gawir sesar antara 0,5 sampai 3 meter. Selain itu, mereka menemukan singkapan sesar aktif yang menunjukkan aktivitas tektonik Holosen, yaitu pergerakan kerak bumi selama periode 11.700 tahun hingga sekarang.

Lokasi Semarang dipilih karena memiliki patahan panjang, sehingga perlu diteliti lebih lanjut untuk memastikan apakah berasal dari satu segmen sesar yang sama atau terdiri dari beberapa segmen berbeda. Jika berasal dari satu sesar utuh, maka potensi magnitudo gempa yang dihasilkan akan lebih besar. Bagian paling panjang dari patahan tersebut berada di utara Semarang, dengan kondisi yang lebih panjang dari Sesar Lembang. Hal ini menandakan potensi gempa yang bisa lebih kuat.

Jejak Mega Tsunami Purba di Selatan Jawa

Dalam diskusi di kantor BRIN, Purna juga menjelaskan temuan jejak tsunami raksasa di zaman purba yang terjadi di selatan Jawa. Gelombang tsunami purba ini menyapu daratan hingga dua kilometer dari bibir pantai. Salah satu temuan krusial BRIN adalah lapisan sedimen tsunami purba berumur sekitar 1.800 tahun. Sedimen ini ditemukan di berbagai titik di sepanjang selatan Jawa, seperti di Lebak, Pangandaran, dan Kulon Progo.

"Karena penyebarannya yang meluas di banyak lokasi, jejak ini diperkirakan merupakan hasil dari tsunami raksasa yang disebabkan gempa megathrust berkekuatan magnitudo 9,0 atau lebih," jelas Purna. Dia menegaskan bahwa temuan ini bukan satu-satunya. Jejak tsunami raksasa lainnya ditemukan berumur sekitar 3.000 tahun lalu, 1.000 tahun lalu, dan 400 tahun lalu. Sehingga ada data tsunami yang berulang.

Riset paleotsunami dilakukan melalui pengamatan lapangan, terutama di lingkungan rawa dan laguna. Sedimen laut yang terbawa oleh gelombang tsunami lebih mudah dikenali dan terawetkan di lingkungan tersebut. Pembuktian bahwa lapisan tersebut merupakan endapan tsunami dilakukan melalui analisis lanjutan, seperti uji mikrofauna, kandungan unsur kimia, dan pentarikhan umur radiokarbon. "Tantangannya adalah tak semua endapan tsunami purba bisa bertahan utuh dan terawetkan dengan baik," katanya. Selain itu, tantangan membedakan dengan sedimen akibat proses-proses lain seperti banjir atau badai juga memerlukan kehati-hatian dalam melakukan analisis sedimen.