Pembaruan Tol Getaci Agustus 2025: Sawah Jadi Kampung Miliarder di Talagasari Garut

Proyek Tol Getaci Mengubah Wajah Wilayah Garut
Proyek jalan tol yang tengah dalam pengerjaan, yaitu Tol Getaci, ternyata tidak hanya memengaruhi infrastruktur jalan tetapi juga mengubah pola kehidupan masyarakat sekitar. Dengan pembangunan tol yang dianggap sebagai salah satu proyek terpanjang di Indonesia, banyak perubahan terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Garut. Tidak hanya muncul kampung-kampung baru, tetapi juga kampung-kampung mati yang ditinggalkan penduduknya.
Kampung Miliarder Baru Muncul
Salah satu contoh yang menarik adalah Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Sebelumnya, wilayah ini merupakan lahan pesawahan yang luas. Namun, karena adanya relokasi akibat pengambilalihan lahan untuk pembangunan Tol Getaci, kini lahan tersebut berubah menjadi permukiman warga baru.
Dalam video yang tayang di YouTube RAF Media, tampak suasana kampung baru yang disebut sebagai kampung miliarder. Di sini, banyak rumah mewah dua tingkat berdiri kokoh, meskipun masih ada bagian halaman yang belum sepenuhnya selesai. Pemilik lahan yang telah menerima uang ganti rugi (UGR) dari pemerintah menggunakan dana tersebut untuk membangun tempat tinggal yang lebih layak.
Kampung Pataruman, yang merupakan lokasi relokasi warga Desa Talagasari, mulai berbenah. Jalan sempit yang terlihat di dalam kampung menunjukkan perkembangan yang sedang berlangsung. Beberapa bangunan sudah dihuni, sementara yang lain masih dalam proses pengerjaan.
Pembayaran UGR di Desa Talagasari dilakukan pada 26-28 Juni 2024. Besaran uang ganti rugi bervariasi, mulai dari Rp 400.000 hingga mencapai Rp 16 miliar. Contohnya, Haji Sobarna menerima sekitar Rp 5,4 miliar atas lahan sawah seluas 6.000 meter persegi. Hal ini menjadikan beberapa warga sebagai miliarder baru akibat dana yang diterima dari pemerintah.
Kampung Mati yang Ditinggalkan
Tidak semua wilayah yang terkena dampak proyek Tol Getaci mengalami perkembangan positif. Ada juga kampung-kampung yang ditinggalkan penduduknya, sehingga menjadi kampung mati. Salah satunya adalah Kampung Lunjuk Girang di Desa Talagasari. Lokasinya berada di pinggir Jalan Raya Bandung-Garut, tepatnya di seberang rumah makan Mergosari.
Banyak bangunan yang kini sunyi dan tidak berfungsi lagi. Seperti bekas pabrik es batu yang kini tidak beroperasi, serta rumah makan dua tingkat yang terlihat kusam. Jika malam tiba, kampung ini gelap gulita, hanya terdapat penerangan dari lampu jalan di sekitar jalan raya.
Banyak penduduk yang telah mendapatkan uang ganti rugi memilih pindah ke kampung baru seperti Kampung Pataruman. Hal ini menyebabkan Kampung Lunjuk Girang semakin sepi dan tidak lagi ramai seperti dulu.
Perubahan yang Menjadi Tantangan
Dampak dari proyek Tol Getaci tidak hanya terasa di bidang ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan. Meski ada kampung-kampung baru yang berkembang, ada juga kampung-kampung lama yang ditinggalkan. Ini menimbulkan tantangan bagi pemerintah dan masyarakat dalam mengelola perpindahan penduduk dan penggunaan lahan yang tersisa.
Selain itu, pembangunan jalan tol yang belum memiliki kejelasan terkait waktu penyelesaian juga menimbulkan ketidakpastian. Warga yang telah menerima uang ganti rugi cenderung membangun rumah baru, sementara yang belum mendapatkan uang ganti rugi harus menunggu lebih lama.
Secara keseluruhan, proyek Tol Getaci membawa perubahan besar di wilayah Garut. Dari kampung miliarder hingga kampung mati, setiap daerah memiliki cerita sendiri tentang bagaimana proyek ini memengaruhi kehidupan mereka.