Momen Turis Asing Merasakan Adrenalin di Festival Bantengan Nuswantara Kota Batu

Festival Bantengan Nuswantara ke-17 Kota Batu Menarik Wisatawan Asing
Festival Bantengan Nuswantara ke-17 yang berlangsung di Kota Batu kembali menjadi perhatian masyarakat, tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Dalam festival tahunan ini, sebanyak 14 wisatawan asing turut serta dalam rangkaian acara. Mereka bergabung dengan warga lokal dalam satu grup Bantengan Internasional.
Para peserta asing tersebut berasal dari berbagai negara seperti Australia, Belanda, Kolombia, Chili, Jepang, Malaysia, India, dan Hongkong. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai bagian dari festival, tetapi juga untuk menjelajahi Kota Batu sebagai destinasi wisata.
Seperti peserta lainnya, para wisatawan asing ini juga mengambil peran sebagai peserta yang memegang tanduk bantengan dan menjaga laju peserta saat beraksi. Proses ini menjadi pengalaman unik bagi mereka karena melibatkan elemen magis dan mistis yang kental dalam atraksi bantengan.
Selain itu, peserta asing juga membawa dupa sebagai pelengkap dari atraksi yang penuh semangat dan energi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya ingin mengikuti festival secara sekadar hiburan, tetapi juga mencoba memahami makna dan nilai budaya yang terkandung dalam kesenian ini.
Salah satu peserta asing yang ikut serta adalah Tony Yap, seorang dancer asal Australia. Ia mengaku telah beberapa kali mengikuti festival bantengan tahunan di Kota Batu. Awalnya, ia mengenal kesenian ini dari temannya yang merupakan seniman saat bertemu di Australia. Temannya menceritakan tentang kesenian bantengan, sehingga membuat Tony tertarik untuk ikut serta.
Sebelum datang ke Kota Batu, Tony melakukan riset mendalam tentang kesenian bantengan. Ia merasa penasaran dan ingin langsung merasakan sensasi adrenalin ketika tampil sebagai peserta. Baginya, kebudayaan ini memiliki nilai penting yang harus dilestarikan.
“Saya pikir kebudayaan ini harus dijaga karena merupakan warisan turun-temurun. Kami (wisatawan asing) sangat tertarik dengan kesenian ini karena ada kesamaan dengan profesi saya sebagai dancer. Selain itu, ada ikatan spiritual yang kuat dalam kesenian ini,” ujar Tony.
Ia juga menyebutkan bahwa kesenian bantengan tidak ada di negaranya. Oleh karena itu, ia merasa terpanggil untuk belajar lebih banyak dari kesenian ini. Pengalaman yang diperolehnya selama mengikuti festival ini memberikan perspektif baru tentang kebudayaan dan tradisi yang kaya akan makna.
Festival Bantengan Nuswantara ke-17 tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan kebudayaan lokal kepada dunia internasional. Kehadiran wisatawan asing menunjukkan bahwa kesenian ini memiliki daya tarik yang luas dan mampu menembus batas-batas geografis. Dengan begitu, festival ini tidak hanya menjadi momen bersyukur atas warisan budaya, tetapi juga menjadi jembatan antara budaya lokal dan global.