Catatan Ekonomi RI Kuartal II Sepanjang 10 Tahun Terakhir

PDB Kuartal II/2025 Diperkirakan Tumbuh 4,8% YoY
Pemerintah akan merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2025 pada hari ini, Selasa (5/8/2025). Pertumbuhan ekonomi sepanjang April-Juni 2025 diperkirakan hanya mencapai 4,8% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan tersebut antara lain konsumsi rumah tangga dan efisiensi pemerintah.
Berdasarkan proyeksi dari 30 ekonom dan lembaga yang dikumpulkan oleh Bloomberg, median pertumbuhan PDB pada kuartal kedua 2025 adalah 4,8% YoY. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar proyeksi berada dalam rentang 4,6% hingga 5%. Beberapa ekonom memberikan estimasi terendah dan tertinggi. Misalnya, Gareth Leather dari Capital Economics, Ltd. dan Enrico Tanuwidjaja dari PT Bank UOB Indonesia memprediksi pertumbuhan hingga 5%, sementara Moody's Analytics Singapore, Jeemin Bang, serta Fakhrul Fulvian dari Trimegah Securites memperkirakan pertumbuhan hanya 4,65%.
Sementara itu, Office of Chief of Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II/2025 sebesar 4,79% YoY, sedikit lebih rendah dari kuartal sebelumnya yaitu 4,87% YoY. Di sisi lain, pertumbuhan secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) diperkirakan mencapai 3,71%, yang menunjukkan pemulihan dari kontraksi -0,98% QoQ pada kuartal I/2025.
Penyebab Pertumbuhan Rendah
Andry menjelaskan bahwa pertumbuhan yang lebih rendah secara tahunan pada kuartal II/2025 dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah konsumsi rumah tangga yang turun karena faktor musiman dan perilaku belanja yang lebih selektif. Namun, bantuan sosial (bansos) yang ditingkatkan oleh pemerintah dapat membantu mengurangi perlambatan konsumsi masyarakat.
Selain itu, aktivitas investasi atau pembentukan modal tetap tumbuh secara moderat. Hal ini terlihat dari penjualan semen yang stabil dan penyaluran dana pinjaman yang produktif. Menurut Andry, hal ini menunjukkan bahwa laju pembentukan modal lebih terukur karena pendekatan "wait and see" dari sektor usaha.
Rekor Pertumbuhan Terendah Sejak 2015
Jika proyeksi ekonom tersebut terwujud, maka angka pertumbuhan ekonomi kuartal II/2025 menjadi yang terendah sejak 2021. Jika mengabaikan data 2020 yang dipengaruhi oleh pandemi Covid-19, angka 4,8% merupakan pertumbuhan terendah sejak kuartal II/2015.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dinamika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II dalam satu dekade terakhir. Pada kuartal II/2015, ekonomi hanya tumbuh 4,67%, namun mulai meningkat menjadi 5,18% pada kuartal II/2016. Pertumbuhan ekonomi kuartalan pada periode yang sama pada 2017 tercatat 5,01%, lalu naik menjadi 5,27% pada kuartal II/2018, sebelum kembali turun menjadi 5,05% pada 2019.
Pandemi Covid-19 pada 2020 menjadi titik balik drastis. Kuartal II tahun itu mencatat kontraksi terdalam dalam sejarah terbaru Indonesia, yakni -5,32%. Pemulihan dimulai pada 2021 dengan pertumbuhan melonjak hingga 7,07% YoY, dipicu oleh efek low base dari tahun sebelumnya.
Namun sejak 2022, tren pertumbuhan kembali melandai. Ekonomi tumbuh 5,44% pada kuartal II/2022, lalu turun menjadi 5,17% (2023) dan 5,05% (2024). Kini, proyeksi pertumbuhan kuartal II/2025 menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan baru dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.