Dosen UII Soroti Makna Sosial Fenomena Rojali, Rohana, dan Robeli

Fenomena Rojali, Rohana, dan Robeli: Kritik Sosial yang Tersembunyi dalam Perilaku Konsumsi
Fenomena viralnya istilah seperti Rojali, Rohana, dan Robeli di media sosial awalnya muncul sebagai lelucon yang segar. Namun di balik sifatnya yang lucu, istilah-istilah ini justru menyimpan kritik terhadap pola konsumsi yang tidak seimbang serta perubahan makna ruang publik akibat komersialisasi.
Menurut Listya Endang Artiani, dosen dan peneliti dari Universitas Islam Indonesia (UII), istilah-istilah ini menggambarkan perilaku konsumsi yang terkait dengan struktur sosial dan ekonomi. Rojali (Rombongan Jarang Beli), Rohana (Rombongan Hanya Nanya), dan Robeli (Rombongan Benar-benar Beli) menjadi simbol dari ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat urban.
Makna Sosial dalam Fenomena Ini
Dalam kerangka sosiologi ekonomi, konsumsi bukan hanya sekadar transaksi ekonomi, melainkan ekspresi dari habitus atau kebiasaan yang dibentuk oleh sejarah sosial, kelas, dan simbol budaya. Ketika seseorang memilih untuk berjalan-jalan di mal tanpa belanja, itu bukanlah keputusan personal murni.
Listya menjelaskan bahwa fenomena ini adalah hasil interaksi kompleks antara aspirasi untuk diakui, tekanan untuk tampil, dan keterbatasan ekonomi riil. Dalam masyarakat kapitalistik yang semakin visual dan digital, “tampak mampu” sering kali lebih penting daripada “benar-benar mampu.”
Inilah bentuk baru dari konsumsi yang menonjolkan status, seperti swafoto di kafe mahal, unggahan OOTD, atau video TikTok di gerai premium tanpa transaksi nyata. Hal ini mencerminkan gaya hidup yang dipengaruhi oleh norma sosial dan tekanan visual.
Humor Deflektif dan Bahasa Bawah Sadar
Meme seperti Rojali dan Rohana pada dasarnya merupakan bentuk humor deflektif, yaitu mekanisme bertahan psikologis untuk meredakan tekanan akibat eksklusi ekonomi. Mereka juga bisa dibaca sebagai bahasa bawah sadar kolektif yang menyuarakan ketimpangan konsumsi secara implisit.
Amartya Sen dalam pendekatannya tentang capability menjelaskan bahwa kemiskinan bukan hanya soal ketiadaan uang, tetapi juga ketidakmampuan untuk berpartisipasi secara bermartabat dalam kehidupan sosial. Rojali dan Rohana adalah representasi dari mereka yang tidak mampu ikut serta dalam arena konsumsi modern yang telah menjadi arena legitimasi sosial baru.
Mal sebagai Ruang Ganda
Mal dan pusat perbelanjaan kini memegang peran ganda: sebagai ruang konsumsi dan sekaligus sebagai ruang sosial pengganti taman kota, alun-alun, dan balai warga yang makin terpinggirkan. Komodifikasi ruang publik ini mempersempit akses bagi warga yang tidak memiliki daya beli memadai, dan menggeser makna kebersamaan menjadi transaksi.
Ketika warga datang ke mal hanya untuk duduk atau berjalan-jalan, mereka tidak sedang gagal berbelanja, melainkan mengekspresikan kebutuhan akan ruang interaksi yang aman, nyaman, dan estetis—yang sayangnya, hanya tersedia dalam format komersial.
Kebijakan Ekonomi dan Tatanan Kota
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi makro dan tata kota belum sepenuhnya memahami kebutuhan sosial warga urban. Stimulus konsumsi, diskon nasional, hingga festival belanja mungkin mendorong pertumbuhan PDB jangka pendek, tetapi tidak menyelesaikan masalah mendasar soal ketimpangan dan keterbatasan ruang hidup.
Tanpa pembenahan struktural, konsumsi akan terus menjadi panggung glamor yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir “Robeli,” sementara mayoritas menjadi penonton yang disoraki meme, bukan disapa kebijakan.
Pentingnya Mengubah Narasi
Penting untuk menghentikan narasi yang menyalahkan “pengunjung mal gagal” dan mulai membaca mereka sebagai sinyal sosial atas krisis representasi dalam ekonomi konsumsi. Pemerintah, pelaku usaha, dan perencana kota perlu berani mendesain ulang ruang-ruang publik yang tidak mensyaratkan transaksi. Selain itu, perlu adanya strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya beli masyarakat melalui peningkatan produktivitas, upah layak, sistem jaminan sosial yang kuat, dan edukasi literasi keuangan yang kritis.
Konsumsi sebagai Alat Identitas
Dalam dunia di mana konsumsi menjadi alat identitas, tugas kita bukan hanya membaca pola-pola itu, melainkan memperjuangkan struktur ekonomi yang lebih adil. Seperti yang dikatakan Veblen, konsumsi bukan lagi soal kebutuhan atau kenyamanan, melainkan tentang pesan sosial yang ingin disampaikan.
Dalam konteks Indonesia hari ini, pesan itu jelas: masyarakat ingin diakui, dilibatkan, dan dihargai bukan sekadar ditertawakan dalam meme yang viral. Seperti dalam teori ekonomi perilaku, tindakan konsumsi tak selalu rasional atau berbasis pada daya beli aktual, melainkan dibentuk oleh bias kognitif, tekanan sosial, dan norma budaya yang melekat kuat.