ZMedia Purwodadi

Harga Jengkol Capai Rp100 Ribu per Kg di Bekasi, Lebih Mahal dari Daging Sapi

Table of Contents
Featured Image

Harga Jengkol Melonjak, Pasokan Minim Pengaruhi Ketersediaan di Pasar

Harga jengkol kini menjadi perhatian banyak pihak. Komoditas yang sebelumnya mudah ditemukan kini sulit didapat dan harganya meningkat tajam. Hal ini terjadi di berbagai pasar di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi, yang menjadi salah satu pusat distribusi jengkol.

Pantauan di beberapa pasar menunjukkan bahwa harga jengkol kini mencapai angka yang sangat tinggi. Di pasar induk, seperti Cibitung, harga jengkol telah menyentuh Rp 90.000 per kilogram. Angka ini lebih mahal dibandingkan harga daging sapi. Bahkan, di pasar eceran, harga jengkol bisa lebih tinggi lagi karena biaya pengangkutan dan margin pedagang.

"Barangnya sedang langka. Kiriman juga dibatasi karena petani tidak mampu memenuhi permintaan," ujar Rizky (28), seorang pedagang jengkol, Minggu 3 Agustus 2025. Ia menjelaskan bahwa peningkatan harga ini tidak bisa dihindari karena pasokan yang terbatas.

Idham (48), pedagang lainnya di Pasar Tambun, juga mengungkapkan hal serupa. Dulu, ia menjual jengkol dengan harga tidak lebih dari Rp 60.000 per kilogram. Kini, harga jengkol terus naik secara bertahap, hingga mencapai Rp 100.000 per kilogram. Menurut Idham, kenaikan harga terjadi secara konsisten, yaitu sekitar Rp 5.000 per minggu. Meski ada sedikit penurunan, harga kembali naik setelahnya.

"Kami ambil dari Pasar Induk Cibitung. Tapi di sana saja barangnya susah dan harganya tinggi. Akibatnya, harga di pasar bawah ikut naik," tambahnya.

Kenaikan harga jengkol ini juga berdampak pada jumlah pembeli. Banyak konsumen, terutama para ibu rumah tangga, mulai mengurangi konsumsi jengkol. Mereka beralih ke komoditas lain meskipun bukan jenis yang sama.

Penyebab Lonjakan Harga Jengkol

Menurut Helmi Yenti, Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting pada Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi, lonjakan harga jengkol terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan hasil pemantauannya ke berbagai bandar dan pedagang, kenaikan harga disebabkan oleh langkanya stok jengkol. Saat ini, sebagian besar tanaman jengkol belum memasuki masa panen.

Meski demikian, di Kabupaten Majalengka, jengkol yang sempat hilang dari pasaran akibat kurangnya pasokan dan harga yang tinggi, kini mulai tersedia kembali. Namun, harga eceran masih tetap tinggi, mencapai Rp 100.000 per kilogram. Sementara itu, harga di tingkat distributor berada di kisaran Rp 70.000 per kilogram.

Lilis, seorang pedagang sayuran di pasar tradisional Sindangkasih, Majalengka, mengatakan bahwa jengkol mulai tersedia kembali sejak seminggu terakhir. Meski begitu, harga jengkol belum turun sejak kenaikan beberapa pekan lalu.

"Barangnya hanya satu jenis. Jengkol tua namun tidak terlalu tua. Jengkol mudanya tidak tersedia karena dikejar kebutuhan pasar," ujar Lilis, Minggu 3 Agustus 2025.

Dampak pada Konsumen dan Pasar

Dengan harga yang terus meningkat, para konsumen mulai merasa terbebani. Banyak orang yang memilih untuk tidak membeli jengkol lagi atau mencari alternatif lain. Sejumlah pasar tradisional juga melaporkan penurunan permintaan terhadap jengkol.

Selain itu, para pedagang juga mengeluhkan kesulitan dalam mendapatkan pasokan jengkol yang cukup. Mereka harus membayar harga yang lebih mahal kepada supplier, sehingga harga jual ke konsumen pun meningkat.

Meski demikian, ada harapan bahwa pasokan jengkol akan kembali stabil dalam waktu dekat. Para petani mulai melakukan persiapan panen, dan diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar. Namun, sampai saat ini, harga jengkol masih tetap tinggi dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.